Faith

Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata,” Ketika kami sedang duduk di sekeliling Rasulullah SAW untuk menulis, tiba-tiba beliau SAW ditanya tentang kota manakah yang akan ditaklukan terlebih dahulu, Konstatinopel atau  Roma? Rasulullah SAW menjawab, “Kota Heraklius ditaklukan terlebih dahulu (maksudnya adalah Konstatinopel)”. (HR Ahmad)
“Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel. Sehebat-hebat amir (pemimpin) adalah amir-nya dan sekuat-kuatnya pasukan adalah pasukannya” (HR Ahmad).
Apabila pada saat ini Konstatinopel (Istambul – sekarang) belum menjadi tanah Islam, ketika kita mendengar atau membaca hadist di atas apa yang akan terbersit di dalam diri kita? Akankah kita menganggap bahwa hadist atau perkataan Nabi SAW sebagai ‘sekedar perkataan yang tidak bermakna’. Atau mungkin dalam konteks kekinian, akan ada sebagian orang yang akan mempertanyakan kesahihan hadist tersebut, atau mentafsirkan dengan tafsir yang entah bersumber dari mana seperti yang kita saksikan sekarang terhadap kasus Al-Maidah:51 yang menurut saya sudah memiliki makna yang straight forward.
Ada baiknya kita belajar dari orang-orang sebelum kita tentang bagaimana mereka menyikapi apa-apa yang disampaikan oleh Allah SWT dan Rasulnya. Perhatikan kedua hadist di atas bagaimana Rasulullah SAW ‘telah memberi jaminan’ penaklukan Konstatinopel. Dan sesungguhnya apa yang diucapkan oleh Rasulullah SAW adalah benar. Tercatat dalam sejarah bahwa usaha penaklukan Konstatinopel sudah dimulai sejak jaman sahabat Abu Ayyub Al-Anshari (44 H/674 M), kemudian dilanjutkan oleh Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, Khalifah Harun Al-Rasyid, Sultan Bayazid I, dan Sultan Murad II (824 H/1422 M). Mereka semua yakin seyakin-yakinnya tentang perkataan Rasulullah SAW dan berlomba-lomba untuk mendapatkan keutamaan dari penaklukan Konstatinopel, walaupun akhirnya mereka belum berhasil.
Akhirnya, janji Rasulullah SAW tentang penaklukan Konstatinopel (Istambul) dapat diwujudkan oleh Sultan Muhammad II atau lebih dikenal dengan nama Muhammad Al-Fatih 825 tahun setelah Nabi SAW mengatakan hal tersebut. Muhammad Al-Fatih sendiri dalam menaklukan Konstatinopel yang pada masa itu dikenal sebagai salah satu kota penting di dunia dengan benteng yang sangat kuat, mengerahkan 250,000 pasukan dan 400 kapal perang. Dan akhirnya, setelah melakukan pengepungan selama 54 hari, pada tanggal 29 Mei 1453, serangan terakhir dilancarkan dan Konstatinopel akhirnya dapat ditaklukan. Dan ketika itu Muhammad Al-Fatih baru berusia 21 tahun, Masya Allah !
Lihatlah bagaimana kekuatan iman dapat memberikan kekuatan yang dapat melebihi apapun. Dan yakinlah bahwa apa yang disampaikan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW adalah PASTI benar. Dan ingatlah bahwa Muhammad Al-Fatih baru mewujudkan penaklukan satu kota dari dua kota yang ada di dalam hadist tersebut. Sehingga menjadi tanggung jawab bagi kita dan generasi setelah kita untuk mewujudkan janji tersebut, Wallahu alam bi sawab.
#nasehatIslam
Inspired by Beyond the Inspiration, book by Felix SiawFaith

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s