Mengelola Hubungan Industrial yang Harmonis di era VUCA

Belum lama ini, ada salah satu perusahaan ternama di Batam menutup operasinya. Salah satu sebab tutupnya perusahaan tersebut adalah konon karena sudah tidak sehatnya hubungan industrial di perusahaan tersebut. Kejadian serupa juga pernah terjadi di tahun sebelumnya di Batam yang diakhiri dengan penutupan salah satu PMA dari Jerman.

Dari narasi singkat di atas, kita dapat melihat bagaimana kondisi hubungan industrial yang harmonis atau tidak dapat menentukan masa depan dari perusahaan. Selain itu kita juga dapat melihat betapa mudahnya bagi PMA untuk menutup investasinya di Indonesia apabila investasi tersebut tidak menghasilkan keuntungan dan hanya mendatangkan masalah yang tidak berkesudahan.

Kita, terutama para praktisi HR, harus sama-sama menyadari bahwa saat ini kita sedang memasuki suatu masa yang bahasa kekiniannya disebut masa VUCA yang merupakan kepanjangan dari Vulnerability, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity. Apabila kita terjemahkan secara bebas, maka hal ini bermakna kerentanan, ketidakpastian, kerumitan, dan ketidakpastian. Disini dituntut peran HR, yang salah satunya dalam konteks hubungan industrial, mampu untuk mengelola dan membangun hubungan industrial yang harmonis dan konstruktif.

Ada beberapa hal yang menurut saya dapat dilakukan oleh praktisi HR dalam mengelola hubungan industrial yang harmonis ini, yaitu: Compliance, Engagement, and Elimination (CE2).

Compliance atau kepatuhan terhadap peraturan perundangan yang berlaku merupakan ruh dari hubungan industrial yang harmonis. Disini, seorang praktisi HR dituntut untuk mengetahui secara detail segala peraturan perundangan yang berkaitan dengan Tenaga Kerja. Hal ini untuk memastikan hak-hak normatif tenaga kerja dapat terpenuhi secara utuh. Selain itu setiap  praktisi HR juga dituntut untuk memiliki keberanian dalam melakukan koreksi terhadap kebijakan management yang dianggap menyalahi peraturan perundangan yang ada.

Engagement yang ditargetkan kepada 3 golongan di perusahaan sebagai berikut:

People leader, merupakan orang-orang yang menduduki posisi dari level top management sampai dengan level line leader. Bos saya di Panasonic sering menyebut mereka sebagai ‘Our First Line of Defense” atau garis pertahanan yang pertama dalam menghadapi day-to-day operation issue. Sayangnya, terutama di lingkungan manufakturing, banyak orang-orang di level ini adalah orang-orang yang memiliki latar belakang teknis dan kurang memiliki kemampuan people management.

Golongan ini adalah mitra HR yang utama dalam mengelola hubungan industrial yang harmonis sehingga praktisi HR harus dapat men-guide mereka untuk memahami pola hubungan industrial yang sehat dan benar, pemahaman yang benar tentang peraturan perundangan di bidang ketenagakerjaan melalui seminar, coaching, shadowing, dsb. HR harus mampu untuk mendorong golongan ini untuk mengambil bagian mereka dalam hubungan industrial terutama terhadap bawahan mereka. Bagian yang dimaksudkan disini termasuk counseling dan tindakan disiplin.

Serikat Pekerja, bagaimana membangun hubungan yang saling menguntungkan dan bermartabat antara serikat pekerja dan perusahaan dengan memperhatikan tugas dan fungsi masing-masing. Kunci dari hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan serikat pekerja adalah TRUST atau kepercayaan. Terutamanya dari serikat pekerja, bahwa mereka harus memiliki kepercayaan kepada management bahwa setiap kebijakan yang ditempuh oleh management adalah demi kepentingan dan kesejahteraan bersama.

Trust building inilah yang menjadi tantangan bagi setiap praktisi HR dalam mewujudkannya. Komunikasi yang berketerusan dan berkelanjutan harus terus dibangun baik secara formal dan informal. Edukasi terhadap pengurus PUK, terutama yang berkaitan dengan arah kebijakan perusahaan, juga sebaiknya dilakukan. Disisi lain HR juga membangun Trust dengan mendorong keluarnya kebijakan-kebijakan yang transparan dan berefek kepada peningkatkan kesejahteraan karyawan secara keseluruhan.

 

Total Karyawan, adalah tanggung jawab management untuk menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, transparan, fair dan tidak diskriminatif. Praktisi HR harus dapat menjadi ujung tombak dan proaktif untuk mewujudkan hal di atas. Dalam beberapa kesempatan, akan diperlukan bagi HR untuk melakukan intervensi kedalam departemen lain apabila hal-hal yang disampaikan di atas menjadi kendala.

 

Selain itu HR harus secara aktif untuk mendorong capacity dan competency building dari seluruh karyawan. Hal ini diperlukan untuk meningkatkat pengetahuan dan motivasi karyawan yang nantinya dapat mendongkrak kinerja setiap karyawan dalam bekerja dan akhirnya, akan meningkatkan kesejahteraan karyawan dan perusahaan.

Engagement lain yang dapat dilakukan secara aktif oleh HR adalah untuk menyediakan support dan pertolongan terhadap permasalahan karyawan sehari-hari. Ketika saya bekerja di Panasonic, kita mengimplementasi Employee Relationship Officer (ERO) yang bertugas untuk membantu karyawan yang memiliki masalah. Dalam bentuk lain, ada perusahaan yang menyediakan layanan Employee CARE seperti yang ada di perusahaan saya sekarang. Intinya, karyawan memiliki tempat untuk melakukan konsultasi ketika mereka memiliki masalah.

Saya selalu percaya bahwa a rotten apple will spoil the whole basket, atau dengan kata lain satu orang yang bermasalah dapat menyebabkan satu perusahaan bermasalah. Ilustrasi pada paragraf pertama dalam tulisan ini dapat sedikit mengilustrasikan permasalahan yang ada.

Elimination bukan merupakan tujuan tapi merupakan bagian dari exit strategy yang harus diambil apabila seorang karyawan yang sudah melalui semua tahap pembinaan tidak dapat memenuhi standar kompetensi dan behaviour yang diperlukan untuk dapat terus berkontribusi di perusahaan. Setiap praktisi HR harus peka terhadap hal ini dan dapat dengan berani mengambil suatu keputusan yang tepat sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Langkah ini diambil untuk menjamin bahwa fairness dan situasi kerja yang kondusif terus dapat terjaga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s